Your Adsense Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis.

Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam.

PUISI

by Ahmad Syafii | Selasa, 10 Maret 2009 | In NO COMMENTS

“SAAT JIWA TERANGKAT”

Aku adalah Pangeran
Saat sang bidadari menyebut namaku dengan bibirnya yang senantisa basah dengan segala air kebaikan, air kehidupan. Suaranya terlalu indah untuk didengar oleh telinga yang terkadang tuli mendengar ayat-ayat Tuhan, terlalu merdu untuk dibandingkan dengan petikan harfa sang dewi bersayap putih penghibur para dewa.

Aku adalah Raja
Kala bidadari melayaniku dengan tangannya yang terlalu indah oleh mata yang senantiasa melihat dan mengintip kejelekan orang lain. Jarinya terlalu lembut untuk kusentuh dan kuciumi, sementara hidungku terlalu kotor dengan segala sampah kehidupan yang menggodaku dengan topeng-topeng kulit kedondong yang menipu.

Bidadariku berkata
“Engkau adalah harapan yang menjadi kenyataan, kau adalah jelmaan mimpi-mimpi malamku yang senantiasa menyelimuti kesendirianku dimasa lalu. Kau adalah kenyataan, kau adalah takdir kau adalah pelita dalam hitamnya sosok-sosok hantu malam tatkala mereka membisikan doktrin-doktrin bertiraikan keindahan dunia yang dibumbui kamuflase-kamuflase sandiwara dongengan-dongengan orang putus asa. Kau adalah penyangga kokohnya hati dalam cinta, saat angin meniup daun bunga mawar merah dan menebarkan kotoran dan debu-debu ke atas mahkota bunganya, tapi tangkaimu tetap teguh meski terkadang goyah oleh badai yang terlalu kuat untuk kau hadapi sebagai manusia biasa atas godaan-godaan.”

Dan aku adalah Ksatria
Saat sang bidadari jatuh dan kuraih sebagai asset dari semua mimpi-mimpi dan harapan-harapan. Saat dia jatuh termakan buaian-buaian dunia, jatuh kedalam jurang keputus-asaan, jatuh dari tebing yang terlalu tinggi atas kemewahan harta dan tahta. Jatuh dan terhempas dari nikmat dan indahnya sebuah keimanan. Lalu kuhibur dia dengan apa yang telah kudengar dari orang-orang pembawa kebenaran, tentang kehidupan dan kematian yang jaraknya tidak lebih tebal dari sehelai rambut yang dibagi tujuh, tentang kebenaran dan kebathilan yang jaraknya bagaikan timur dan barat, tatkala barat kauhadapi maka timur kau belakangi dan jika tubuhmu terputar maka sebaliknya timur kau hadapi niscaya barat kau belakangi. Dan tatkala takdir kenyataan terhempas dari sadarmu niscaya jatuhlah segalanya.

Sang Bidadari tahu bahwa dia adalah sebuah objek tuhan yang harus senantiasa mengingat atas penciptanya, meski terkadang dia berkata “Aku adalah aku”


Jangan kau sangka semua yang hitam itu sesat
jangan kau kira semua yang biru itu indah
Sementara angin masih mau menyapa si miskin yang terdampar
Dalam pengembaraan


No Responses to "PUISI"